Wednesday, June 19, 2013

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dilingkupi kecemasan, maka Bunda juga gemetar penuh keraguan,
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, keraguan itu musnah bagai kabut disiram cahaya matahari pagi,
berganti keyakinan dan keteguhan.

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita ditimpa musibah, maka Bunda juga menghela nafas, menangis,
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, dia bergegas menyeka ujung matanya, mengusir semua sedih
berganti perasaan riang dan ketulusan.

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dirundung kekurangan, maka Bunda juga tertatih penuh beban.
tapi sungguh anakku, demi melihatmu, dia bergegas berdiri tangguh, berusaha tegar dengan sisa apapun
berganti semangat menyala terus berusaha

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Ketika keluarga kita dalam ketakutan, dalam pertengkaran, dalam kegagalan
dalam situasi itu semua, Bunda juga tergugu berharap sandaran dan pertolongan,
tapi sungguh anakku, kau memberikan semua energi tidak terkira itu

Tidak ada Bunda yang sempurna, Nak
Maka kuberitahukan sebuah rahasia kecil ini
Betapa malam-malam, saat kau sudah tertidur nyenyak,
Bunda bersimpuh dengan air mata, berdoa, berjanji,
Akan selalu menjadi Bunda terbaik bagimu.
Walau kita tidak pernah tahu itu.



Dari film "Moga Bunda Disayang Allah"

Tuesday, June 18, 2013

♡♥ Surat Cinta Untukmu yang Jauh Disana ♥♡



Assalamu'alaikum cinta, apa kabar?

Apa kabar dengan setia dan kejujuran?


Cinta..., andai saja aku bisa mengungkap semua kata dan rasa dalam hati yang aku punya ini..., maka seribu lembar kertas pun tak akan cukup untukku menuangkannya. Banyak sekali cinta, banyak yang ingin aku ungkap secara langsung di hadapanmu nanti.

Andai kau tahu, aku hambar tanpa pengisi kasih dan pedulimu padaku, andai saja kau tahu apa yang aku rasakan ini untukmu.


Cinta bukan yang bernama keegoisan rasa,
bukan yang mengucap “ bagaimana?” namun “ aku mengerti...”
bukan “ kamu di mana?” tapi “aku di sini....”
bukan “ aku ingin kamu seperti ini....” akan tetapi “ aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu...”

sepinya diriku tanpa kau di sini,
hampanya hatiku karena ku tahu dengan nyata kau tak berada di sampingku,
seringnya kau patahkan aku...., namun aku bukan seorang yang mudah menyerah...
aku bertahan, karena ada kejujuranku... untuk mengasihimu....
luka itu memang sakit cinta, akan tetapi lebih sakit lagi jika aku membohongi diri ini.


Mungkin aku bisa menggunakan dusta putihku, namun selama aku masih bisa menjaga kebaikan dalam jujurku, sungguh... demi Dia yang Maha Menghargai, ku akan berjalan di sini tanpa ada paksa dari siapapun, dan yang ututh adalah hanya ada nurani dan hati yang suci.


Ketika luka – luka telah mengering, Selama itu pula aku haus untuk merindukanmu, pun selama luka itu masih basah dan masih pekat terasa ngilu di ulu hatiku. Cinta, inginnya aku bersamamu, menjaga hati mu, mendampingi mu ketika resah dan gundah melandamu, ahh... cinta akankah kau tahu begitu dalamnya kasihku. Sehingga semua luka dan kecewa itu tak akan mampu mengubahnya, sekalipun pernah kau memintanya untuk aku melakukannya.


Maafkan cinta, maafkan aku, karena aku terlalu jujur pada perasaanku.
Dan semua, semua.... masih tetap utuh pada tempatnya.
Rasa yang bercampur baur, ada duka, ada kecewa, namun ada pula rasa percaya di antara sejuta ragu, ada setitik cahya diantara gelapnya cakrawala.
Ketika smua terhempas karena sia – sia, maka akan ku coba pelajari kesedihan ini, kesakitan ini, dan ku anggap ini sebagai hadiah “besar”-Nya.


Derita ini adalah anugerah dan suatu kehormatan tersendiri bagiku di atasnya dan di bawah kekuasaan-Nya. Jiwa tak akan pernah mengenal arti tegar jika ia hanya datar merasakan perjalanan hidupnya. Hati tak akan pernah mengerti rasa sakit, jika ia selalu bahagia, Maha Suci Tuhan Semesta Alam atas segala rangakaian hidup yang sempurna ini.


Dan cinta...., kau membuatku banyak belajar dalam sakitnya aku ketika aku terhujam mendekam dalam tebing bebatuan yang tajam. Kau membuatku menjadi orang “ besar” dalam rasa kesyukuranku pada-Nya.

Terima kasih cinta, kau membuat aku menjadi jiwa yang sabar atas segala penantian dan pengertian. Secuil apapun itu harapan adalah tetap menjadi harapan. Dimana ia juga bisa tumbuh dari rasa kecewa, dari rasa luka. Maka biarkanlah ia tumbuh menjadi dewasa dalam matangnya pemahaman.


Mungkin aku akan berdiri di atas rangakain jerami yang selalu ada di depanku ketika aku berjalan, dan tiada lain adalah rasa sabar ketika aku harus membersihkannya , tiada lain dari rasa ikhlas ketika aku merasa lelah untuk merapikannya agar ia tak melukaiku. Namun ketika goresan luka itu ada , tiada lain pula rasa bertahan dan pengupayaan untukku mengobatinya. Dan tiada lain dengan rasa tulus aku melakukannya.


Begitu pula dengan mu cinta...,
jika pun harus ada air mata, maka biarlah ia menjadi teman sedihku untuk menyayangimu...
jika ada rasa sakit mendera, maka biarkanlah ia menjadi teman setiaku dalam bertahan atas segala kejujuranku padamu .


Sungguh aku bersyukur, karena aku mengenalmu cinta, sekalipun aku tak pernah utuh memilikimu, sekalipun utuh yang kau punya tahtanya untukku...
jangan tanyakan tentang kesedihan yang kau pun tahu cinta,
jangan bertanya tentang rasa sakitku, bila kau pun merasakannya...
aku memang manusia biasa, yang tak sempurna, dan kadang salah...
namun rasa kasihku telah mengalahkan rasa sakitku,
rasa asihku mengalahkan egoku …
dan sayangku...., telah mampu mengobati luka – luka itu.


Cinta, kapan aku bisa menyentuhmu?
Dimana aku bisa menemui hangatnya jemarimu mengusap semua peluhku?
Ataupun sebaliknya aku yang mengusap peluh di wajahmu...
Dan aku yang akan membelai lembut bahumu ketika kau goyah di jalan perjuanganmu bersamaku,
agar kau tahu betapa pedulinya aku terhadapmu.


Cinta, dalam sujudku pada-Nya
ku titipkan doa dan pintaku.....
semoga kau senantiasa dalam penjagaan-Nya ketika penjagaanku tak sampai padamu
semoga kau selalu dikasihi dan disayangi -Nya ketika kasih dan sayangku tak mampu melampaui dimana kau berada saat ini.


Ku pinta pada-Nya agar Cinta-Nya selalu ada untukmu, ketika aku tak sanggup lagi mencintai
Ku tegarkan, segala kerapuhan,
kan ku indahkan segala kesedihan...
bahagia mu adalah doa dan harapku....
senyunmu, menjadi suatu cita – cita dimana aku bisa merasakannya itu tulus hanya untukku.


Semoga kan selalu baik adanya , meskipun jalan ini tak sempurna....
ucap terakhirku, ku harap kan terbaca jelas di mata dan hatimu...
aku mengerti...., aku di sini, dan aku mencintaimu apapun adanya kau dengan segala kekuranganmu...
dan biarlah........., biarkanlah tulusku...yang mencintaimu....



copas dari Kupilih Dermaga-Mu tuk pelabuhan cintaku


SUNGGUH ABSURD

Sungguh absurd kan....ada seorang ayah setengah mati memerintahkan anak lelakinya untuk mengerjakan sholat, sementara sang anak tidak sekalipun melihat ayahnya sholat...

Sungguh absurd kan...bila seorang bapak mengharapkan mempunyai anak sholeh sedang dia tega tak henti-hentinya bermaksiat di depan anaknya...

Sungguh absurd kan...bila seorang ibu kagum melihat seorang gadis kecil melintas, anggun dan cantik dengan jilbab yang menutupi sekujur tubuhnya. Dan sambil menasehati anak gadisnya, "kenapa kamu gak pake jilbab kayak dia..?". Padahal sang ibu berpakaian tapi layaknya telanjang, ketat melekat bak penyanyi dangdut acara sunat....

Sungguh absurd kan, bila ada orang tua perokok, bermimpi besok anaknya kelak tidak menjadi perokok seperti mereka, menghambur-hamburkan harta dan merusak jasadnya sendiri...

Sungguh absurd kan...bila kita sebagai orang tua berharap mempunyai anak-anak yang tidak mengikuti atau mencontoh keburukan-keburukan yang kita lakukan sehari-hari, tetapi kita justru mempertontonkannya dengan gamblang dan lantang di depan anak-anak kita, buah hati kita, setiap saat....dan selalu berharap bila mereka kelak sudah menjadi orang tua seperti kta, tidak akan mempunyai mental dan sikap seperti kita.

Sungguh absurd kan....kita berbicara ribuan kata bahwa kita mencintai dan menyayangi anak-anak kita, tapi kita justru merusak masa depan mereka dengan memberi contoh keburukan-keburukan kita di depan mereka. Cinta gak sekedar kata-kata, cinta butuh bukti nyata.

Berharap keajaiban terjadi, anak-anak kita menjadi manusia-manusia mulia tanpa pernah kita berusaha memuliakan mereka adalah gila....!!!

Moga Bunda Disayang Allah

Bunda, 
Kami merasa itu marah-marah. Ternyata itu sungguh kasih sayang.
Karena jelas, orang2 yang sebenarnya tidak menyayangi kami,
tidak akan marah-marah saat kami akan melakukan sesuatu yang buruk bagi kami.

Bunda,
Kami merasa itu cerewet. Ternyata itu sungguh kepedulian
Karena jelas, orang2 yang sebenarnya tidak peduli pada kami,
akan diam saja saat kami akan merusak diri sendiri.

Bunda,
Kami merasa itu banyak peraturan. Ternyata itu sungguh kebebasan
Karena jelas, orang2 yang memuja kebebasan,
malah menggoda kami untuk melewati batasnya.

Bunda,
Saat semua itu sudah terjadi, saat orang lain pergi, tidak peduli, tertawa dengan mainan barunya,
maka hanya Bunda yang tetap menunggu
Sungguh terlalu banyak salah-paham yang kami lewati
Maka semoga kami tidak terlambat untuk menyadarinya, dan
senantiasa berdoa: Moga Bunda Disayang Allah

"Moga Bunda Disayang Allah"

Monday, June 17, 2013

Terlalu nge-Judge

Teman saya, kita sebut saja namanya adalah Bambang, sebenarnya baik. Hanya satu masalahnya, terlalu mudah menilai orang lain, nge-judge, tanpa dipikirkan dua kali, apakah dia memang pantas melakukannya, apakah itu sopan atau tidak. Apakah dia layak atau tidak melakukannya. Bambang tidak peduli, namanya juga hobi dia.

Nah, pada suatu hari si Bambang yang adalah pegawai di salah-satu perusahaan swasta itu mengunjungi salah seorang seniornya di kantor, tidak terlalu dekat memang, tapi karena si senior ini termasuk atasan penting, juga dikenal baik, maka berangkatlah si Bambang bersama teman2 sekantornya untuk ikut berbelasungkawa. Si senior ini lagi kena kemalangan, rumahnya dirampok orang, istri dan anak2nya yang diikat semalam trauma. Harta benda hilang, mobil dibawa pergi. Ada banyak orang yg berkunjung, bilang simpati, termasuk petugas yang sibuk bekerja. Saat giliran teman2 kantor bertemu, bilang ikut sedih atas kejadian tersebut, maka si Bambang seperti biasa, cepat sekali menilai orang lain, dia menjabat tangan seniornya, kemudian berkata mantap, "Semoga ada hikmahnya ya, Mas. Mungkin ini agar Mas lain kali lebih banyak sedekah, berinfaq. Tidak kikir dengan orang2 yang membutuhkan." Santai sekali si Bambang ini berkata, saking santainya, dia tidak tahu kalau teman2 lain yang tahu persis justeru menahan nafas. Syukurlah seniornya hanya mengangguk, tersenyum tipis. Tidak tersinggung.

Sepulang dari rumah si senior, dalam perjalanan kembali ke kantor, salah-satu teman kerja Bambang berkata pelan, "Eh, Mbang, bulan lalu pas anak ente masuk rumah sakit kan biayanya melebihi tanggungan perusahaan kan ya?" Bambang nyengir, ngangguk, "Iya tuh. Gue harus bayar hampir xx juta, ngabisin tabungan. Gue udah pusing sekali, cari duitnya, syukur ada orang yang mau bantu." Teman kerjanya kemudian menatap Bambang lamat2, "Lu tahu nggak siapa yang bantu?" Bambang menggeleng--karena dia memang tidak tahu, tiba2 tagihan rumah sakit sudah lunas. Dan teman si Bambang berkata prihatin, "Yang bantu lu itu senior kita tadi. Yang lu bilang agar lebih banyak sedekah, berinfaq. Tidak kikir. Dialah yang ngelunasin tagihan rumah sakit anak lu."

Di dunia ini, adalah tabiat kita mudah sekali menilai, nge-judge orang lain. Dan sayangnya, kita bahkan langsung dengan telak menuduh orang lain persis di hadapan banyak orang. Si Bambang ringan tangan sekali nge-judge orang lain jangan kikir. Atau dalam kasus lain, orang2 ringan sekali bilang "Makanya dong jadi orang yang sabar, coba tiru Rasul Allah, sabar banget, kan.", tega sekali membawa2 pembanding yang tidak ada bandingannya, padahal kita sama sekali tidak tahu seberapa besar dia sudah mencoba bersabar. Atau "Anda ini sepertinya memang tidak mau mendengarkan orang lain, ya. Tidak demokratis." Padahal kita tidak tahu sama sekali orang yang kita nilai tersebut bahkan bisa masuk dalam daftar 1.000 orang paling mendengarkan yang pernah ada.

Nge-judge sana, nge-judge sini. Bahkan saat kita tidak kenal dengannya, baru pertama kali berinteraksi, tumpah ruah kalimat2 menilai orang lain. Lupa kalau orang yang kita ajak bicara lebih tua, lebih banyak makan asam garam kehidupan. Lupa kalau orang yang kita judge lebih tahu. Pun termasuk di dunia maya ini, berserakan kebiasaan buruk tersebut.

 Maka, my dear... jangan jadi si Bambang. Saya ingat sekali nasehat orang tua, sbb: Bahwa orang2 yang sibuk menilai orang lain, maka dia akan lupa untuk mulai bersegera menilai diri sendiri. Orang2 yang sibuk nge-judge orang lain, maka dia akan lupa, kelak pada hari penghabisan, dirinyalah yang akan di-judge setiap jengkalnya.

Mungkin baik sekali direfleksikan, dipikirkan.

**Tere Lije

Tergantung Oleh Rokok...??

Salah satu argumen perokok dan pembela perokok adalah: industri rokok memberikan triliunan cukai ke negara. Ada ratusan ribu orang yang tergantung nafkahnya dari rokok.

My dear anggota page, dalam hal-hal prinsip kebenaran, kita tidak pernah memakai argumen untung rugi materi. Ya ampun, kalau kalian hanya memikirkan itu, kenapa kita tidak sepakat legalkan saja bisnis judi dan prostitusi di negeri ini? Return of investmentnya lebih gila, margin keuntungannya berlipat, uangnya lebih dahsyat dibanding rokok, dan kita bisa kasih jutaan orang lowongan pekerjaan.

Atau, hei, kita legalkan ganja, heroin, itu sungguh bisnis menjanjikan, tanami satu provinsi dengan ganja, negeri ini bisa lebih makmur dibanding negeri manapun. Dan kita butuh jutaan tenaga kerja dalam proyek mega rakasasa tersebut. 

Tetapi apakah kita mau menukar dengan kerusakan yang lebih besar? Kerusakan yg datang dari industri merokok itu besar sekali, terlepas dari apakah orang2 mau melihatnya atau tidak.

Copas dari Bang Darwis Tere Lije

Sunday, June 16, 2013

KETIKA LELAKI MENANGIS

Beginilah cara laki-laki menangis, . Terlihat diam dan
tenang, sesekali air matanya keluar dari matanya. Pandangannya
kosong namun seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tidak selama
wanita saat menangis, hanya beberapa menit, bahkan beberapa
detik. Diam dalam sendirinya, Seolah-olah tangis itu milik dia
seorang.

Tidak ada yang lain.. Setelah puas di detik-detiknya,dia
kembali lagi beraktifitas seperti biasa.. Seperti tidak pernah terjadi
apa-apa..

Perempuan berpikir dengan perasaannya, laki-laki berpikir dengan
logikanya. Inilah mengapa perempuan lebih sensitif dibandingkan
dengan laki-laki.

Tapi, menangis selalu berasal dari perasaan. Teman.. ketika laki-laki
menangis.. bukan sebutan cengeng atau kurang jantanlah yang
harus dilontarkan padanya. Tapi lihatlah betapa sangat beratnya dia
menahan deritanya, sehingga dia perlu mengeluarkan air matanya
yang berharga itu..

Dia tidak perlu orang mendekatinya, dia tidak perlu orang untuk
menghiburnya. Yang dia perlukan hanya beberapa menit/detiknya
untuk ketenangan batin.

~Fsi al-kautsar Sunnah~